Sunday, July 30, 2017

Dari Dana Haji Ke Infrastruktur : Sejumlah Perjalanan Yang Sangat Panjang.

Assalamu'alaikum warohmatullohi wa barokatuh.

Selamat pagi...

Kelihatannya besar.. kelihatannya mudah... kelihatannya sepele. Dana Haji itu sudah tertumpuk disono.. sekitar Rp 85 trilyun. Aturan juga sudah ada. Buzzer Cikeas akan mendorong anda berpikir, seolah-olah dana itu 'tinggal dipakai' begitu saja.  Tanpa rintangan.

Saya kasih tahu rintangannya :
1. Akad dari dana haji itu.. akad titipan. Akad titipan itu bukan akad investasi. Untuk menggunakan dana itu, BPKH harus mengubah perjanjian satu per satu dengan 2 juta orang yang ada dalam daftar tunggu haji. Itu bisa berasa seperti pilkada sebuah propinsi kecil.  Bukan pekerjaan yang mudah.
2. Sebagian besar dari BPKH, itu adalah orang-orang perbankan syariah. Mereka ini, sudah terbiasa 'bermain', memahami, dan mengetahui konsekuensi dari akad. Kalau mereka 'kacau' dengan akad ini, mereka bisa masuk neraka.

Jadi.. untuk menggunakan Dana Haji dengan seenaknya, Pemerintah setidaknya harus memastikan ketersediaan 14 orang anggota Pengawas dan Pelaksana BPKH untuk masuk neraka.

Sebagian dari anda .. pasti mengenal ke 14 orang itu secara pribadi.

Pertanyaan saya adalah: Apakah mereka mau sukarela masuk neraka?

Ada 'catch'-nya... ada titik lemahnya juga disini: Jangan jual ayat Alloh dengan harga yang murah. (Al Baqarah : 41). Kalau Pemerintah mau membeli dengan Rp 100 miliar per orang. Apakah setidaknya setengah dari mereka akan tergoda?

Saya sih mengenal secara pribadi Pak Acep Riana Jayaprawira. Sepertinya.. Insha Alloh beliau adalah orang yang 'tidak akan menjual surganya dalam harga berapapun'. Jadi setidaknya.. saya memiliki keyakinan bahwa Pemerintah tidak akan bisa menggunakan BPKH seenak perutnya.. seperti apa yang dituduhkan oleh para Buzzer Cikeas belakangan ini.

Wallahu a'lam bishawab...
Wassalamu'alaikum warohmatullohi wa barokatuh.
Satrio Utomo

Saturday, July 29, 2017

Dana Haji dan Buzzer Pendukung Jokowi

Assalamu'alaikum warohmatullohi wa barokatuh...

Joko Widodo itu terpilih dengan bantuan buzzer. Buzzer Jokowi itu cenderung Islam Libreral atau malah Non-Muslim. Buzzer Jokower saya mengatakannya,  Ini yang membuat 'kontra' atau 'lawan' dari mereka, cenderung adalah Muslim. Muslim yang seperti apa? Ya Muslim yang sholat, yang mendekatkan diri kepada Tuhannya, yang berusaha hidup menjalankan syariah, dan bahkan (saya sebenarnya gak mau menekankan ini, tapi saya sadar bahwa saya harus jujur mengakui) Islam yang agak 'terlalu bersemangat' dalam menjalankan agamanya.. seperti FPI maupun HTI. Beda loh ya... ISIS itu Islam yang kebablasen, Islam yang keblinger. ISIS bukan Islam sehingga kita harus keluarkan dari sini.

Golongan 'Islam yang terlalu bersemangat' ini, sebenarnya hanya golongan kecil. Mereka ini, ekslusif, militan, sikring pendek, dan pendidikannya cenderung kurang. Mereka ini yang kemudian di dunia maya, terutama yang batasannya kendor seperti Twitter, terlihat saling serang, saling adu argumen dengan Buzzer Jokower. Sedemikian intensnya pertarungan, hingga yang satu menyebut lawannya sebagai 'Islam Radikal', dan yang satu menyebut lawannya dengan 'Kafir' atau bahkan 'Komunis'. Maklum.. kembali ke jaman 1960an dulu.. lawan dari Islam kan Komunis. Kalau di jaman sekarang, lawan dari peradaban kan 'Islam Radikal'. Mereka ini kemudian berperang.. terus.. dan terus. Tiada henti sampai saat ini. Gaduh.

Di sisi lain, ada yang namanya Dana Haji.

Kemajuan ekonomi Indonesia, telah membuat terangkatnya perekonomian masyarakat bawah.  Masyarakat bawah yang kebetulan mayoritas beragama Islam. Dalam beragama itu, orang sering kali dilandasi oleh keinginan masuk (atau memperoleh) surga. Hidup di dunia ini hanya sebentar sehingga orang mau bersusah-susah untuk mendapatkan surga.  Haji, adalah ibadah yang menarik. Haji itu hukumnya 'wajib bagi yang mampu'. 'Wajib' ... bagi yang 'mampu'. Wajib itu harus. Kalau nggak dilakukan, lupain aja surganya deh... langsung bayangin aja nerakanya. Akan tetapi... 'mampu' itu relatif: mampu finansial... mampu fisik... mampu mental... dsb. Mampu secara finansial.. itu batasannya relatif. Kalau mampu secara finansial itu batasannya adalah mampu membayar uang muka haji yang jumlahnya hanya Rp 25 juta itu... lebih dari setengah umat Islam saya rasa mampu. Mengapa? Karena .. biaya haji itu memang tidak boleh ngutang, tapi.. uang mukanya boleh.  Perbankan syariah kemudian mengeluarkan produk Dana Talangan Uang Muka Haji.  Naik haji.. sekarang gak perlu setor Rp 25 juta bulat-bulat.  Cukup Rp 500 rb - Rp 1 juta per bulan. Enak banget kan?

Rp 500 rb - Rp 1 juta per bulan itu artinya: hampir semua orang Islam bisa berangkat haji. Di satu sisi.. ini adalah berkah... itu adalah simbol bahwa bangsa Indonesia sudah makmut. Di sisi yang lain... eh... nanti dulu.. timbul kesadaran dan kecurigaan seperti ini: loh.. itu kan buzzer Jokowi isinya Syiah, Liberal, Komunis, dll... kenapa mereka dengan mudahnya mau memakai dana haji? Enak bener?

So... terima kasih atas jasa Buzzer Jokowi, apapun yang dilakukan oleh Jokowi akan dipandang negatif oleh Buzzer pihak lain, yang kebetulan beragama Islam.  Islam yang dianggap Buzzer Jokowi sebagai ISIS, HTI, PKS, dan lain sebagainya itu.  Isu Dana Haji kemudian bergulir seperti bola api, membara menjadi sumber pertarungan baru.

Pertanyaannya: dimana posisi kita? Dimana posisi saya? Dimana posisi anda?

Saya akan bahas pada tulisan saya yang lain.  In the mean time... saya hanya ingin menasehati diri saya sendiri dan anda semua: hati-hati kalau berkomentar atau mengambil posisi dalam issue dana haji ini.  Jangan sampai kita terjepit dalam issue yang dipromosikan oleh para Buzzer.

wallahu a'lam bishawab...
Wassalamu'alaikum warohmatullohi wa barokatuh.

Satrio Utomo

Selamat atas terpilihnya Dewan Pengawas dan Dewan Pelaksana BPKH

Selamat pagi...

Berhubung saya belakangan sibuk persiapan haji... saya jadi terlambat melihat berita mengenai pengangkatan anggota Badan Pelaksana dan Pengawas Keuangan Haji (BPKH).

Saya mencoba googling untuk mengetahui .. apa dan siapa itu masing-masing anggota BPKH.  Maklum.. sebagai salah satu perserta seleksi yang hanya sampai di babak ketiga.. saya akan sangat sakit hati jika kemudian kalah dengan orang partai atau apa begitu.  Hasilnya seperti ini:

1. Yuslam Fauzi Ketua merangkap anggota dewan pengawas --> BSM (mantan Dirut)
2. Khasan Faozi sebagai dewan pengawas --> Depag
3. Moh. Hatta sebagai anggota dewan pengawas --> *
4. Marsudi Syuhud anggota dewan pengawas --> NU
5. Suhaji Lestiadi Anggota Dewan Pengawas --> Muamalat
6. Muhammad Akhyar Adnan Anggota Dewan Pengawas --> Ahli Akuntansi Syariah, Dosen UII, Alumnus FEUGM
7. Hamid Paddu Anggota Dewan Pengawas --> UNHAS
8. Ajar Susanto Broto Anggota Badan Pelaksana --> Praktisi Risk Management
9. Rahmat Hidayat Anggota Badan Pelaksana --> praktisi ekonomi syariah (???) - *
10. Anggito Abimanyu Anggota Badan Pelaksana --> Ekonom, Alumnus UGM,
11. Beny Witjaksono Anggota Badan Pelaksana --> LSP Keuangan Syariah
12. Acep Riana Jayaprawira Anggota Badan Pelaksana. --> BNI Syariah
13. Iskandar Zulkarnain Anggota Badan Pelaksana --> Pemilik saham (?) Bank Muamalat
14. Hurriyah El Islamy Anggota Badan Pelaksana --> pakar ekonomi syariah.

*gak kelihatan di google karena namanya ambigue




So... kalau anda bertanya kepada saya : bagaimana komentar saya mengenai anggota BPKH.. saya akan bilang : sejauh ini.. mereka didominasi oleh profesional.  Bagaimana kualitas kerja mereka nantinya? Kita lihat saja deh.  Yang jelas.. karena isinya adalah profesional... saya berharap mereka mampu melindungi dana yang jumlahnya sampai Rp 100 trilyun itu.


Selamat bertugas BPKH... semoga anda bisa melakukan tugas anda dengan amanah.. dan mampu memberikan barokah pada seluruh umat Islam Indonesia.

Wassalam,
Satrio Utomo


Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Premium Wordpress Themes