Assalamu'alaikum warohmatullohi wa barokatuh...
Joko Widodo itu terpilih dengan bantuan buzzer. Buzzer Jokowi itu cenderung Islam Libreral atau malah Non-Muslim. Buzzer Jokower saya mengatakannya, Ini yang membuat 'kontra' atau 'lawan' dari mereka, cenderung adalah Muslim. Muslim yang seperti apa? Ya Muslim yang sholat, yang mendekatkan diri kepada Tuhannya, yang berusaha hidup menjalankan syariah, dan bahkan (saya sebenarnya gak mau menekankan ini, tapi saya sadar bahwa saya harus jujur mengakui) Islam yang agak 'terlalu bersemangat' dalam menjalankan agamanya.. seperti FPI maupun HTI. Beda loh ya... ISIS itu Islam yang kebablasen, Islam yang keblinger. ISIS bukan Islam sehingga kita harus keluarkan dari sini.
Golongan 'Islam yang terlalu bersemangat' ini, sebenarnya hanya golongan kecil. Mereka ini, ekslusif, militan, sikring pendek, dan pendidikannya cenderung kurang. Mereka ini yang kemudian di dunia maya, terutama yang batasannya kendor seperti Twitter, terlihat saling serang, saling adu argumen dengan Buzzer Jokower. Sedemikian intensnya pertarungan, hingga yang satu menyebut lawannya sebagai 'Islam Radikal', dan yang satu menyebut lawannya dengan 'Kafir' atau bahkan 'Komunis'. Maklum.. kembali ke jaman 1960an dulu.. lawan dari Islam kan Komunis. Kalau di jaman sekarang, lawan dari peradaban kan 'Islam Radikal'. Mereka ini kemudian berperang.. terus.. dan terus. Tiada henti sampai saat ini. Gaduh.
Di sisi lain, ada yang namanya Dana Haji.
Kemajuan ekonomi Indonesia, telah membuat terangkatnya perekonomian masyarakat bawah. Masyarakat bawah yang kebetulan mayoritas beragama Islam. Dalam beragama itu, orang sering kali dilandasi oleh keinginan masuk (atau memperoleh) surga. Hidup di dunia ini hanya sebentar sehingga orang mau bersusah-susah untuk mendapatkan surga. Haji, adalah ibadah yang menarik. Haji itu hukumnya 'wajib bagi yang mampu'. 'Wajib' ... bagi yang 'mampu'. Wajib itu harus. Kalau nggak dilakukan, lupain aja surganya deh... langsung bayangin aja nerakanya. Akan tetapi... 'mampu' itu relatif: mampu finansial... mampu fisik... mampu mental... dsb. Mampu secara finansial.. itu batasannya relatif. Kalau mampu secara finansial itu batasannya adalah mampu membayar uang muka haji yang jumlahnya hanya Rp 25 juta itu... lebih dari setengah umat Islam saya rasa mampu. Mengapa? Karena .. biaya haji itu memang tidak boleh ngutang, tapi.. uang mukanya boleh. Perbankan syariah kemudian mengeluarkan produk Dana Talangan Uang Muka Haji. Naik haji.. sekarang gak perlu setor Rp 25 juta bulat-bulat. Cukup Rp 500 rb - Rp 1 juta per bulan. Enak banget kan?
Rp 500 rb - Rp 1 juta per bulan itu artinya: hampir semua orang Islam bisa berangkat haji. Di satu sisi.. ini adalah berkah... itu adalah simbol bahwa bangsa Indonesia sudah makmut. Di sisi yang lain... eh... nanti dulu.. timbul kesadaran dan kecurigaan seperti ini: loh.. itu kan buzzer Jokowi isinya Syiah, Liberal, Komunis, dll... kenapa mereka dengan mudahnya mau memakai dana haji? Enak bener?
So... terima kasih atas jasa Buzzer Jokowi, apapun yang dilakukan oleh Jokowi akan dipandang negatif oleh Buzzer pihak lain, yang kebetulan beragama Islam. Islam yang dianggap Buzzer Jokowi sebagai ISIS, HTI, PKS, dan lain sebagainya itu. Isu Dana Haji kemudian bergulir seperti bola api, membara menjadi sumber pertarungan baru.
Pertanyaannya: dimana posisi kita? Dimana posisi saya? Dimana posisi anda?
Saya akan bahas pada tulisan saya yang lain. In the mean time... saya hanya ingin menasehati diri saya sendiri dan anda semua: hati-hati kalau berkomentar atau mengambil posisi dalam issue dana haji ini. Jangan sampai kita terjepit dalam issue yang dipromosikan oleh para Buzzer.
wallahu a'lam bishawab...
Wassalamu'alaikum warohmatullohi wa barokatuh.
Satrio Utomo
12:27 AM
Satrio Utomo
Posted in: 


0 comments:
Post a Comment